Materi Pertemuan Ke 3


 

KAIDAH-KAIDAH TURUNAN DARI KAIDAH NIAT
Oleh: Asmuni Mth

1. Pendahuluan
Niat merupakan rahasia dan ruh ibadah, eksistensi niat bagi perbuatan seperti eksistensi ruh bagi jasad, perbuatan yang tidak disertai dengan niat ibarat sesosok mayat tanpa ruh di dalamnya. Niat adalah bagian dari ibadah yang disyariatkan yang berpengaruh terhadap perbuatan dan berimplikasi pada hukumnya. Niat merupakan asas dan kaidah perbuatan yang karenanya perbuatan akan dikategorikan sah, rusak, diterima atau ditolak. Suatu perbuatan akan dinilai benar bila niatnya benar, dan sebaliknya. Niat yang benar akan mendatangkan taufik, dan niat pula yang menjadikan derajat manusia bertingkat-tingkat baik dalam kehidupan di dunia maupun di akherat.
Menilik eksistensi niat yang begitu penting bagi perbuatan manusia dan berbagai implikasi (yuridis)nya, maka sebagai ijtihad akademis, makalah ini akan menguraikan persoalan seputar niat dan kaidah-kaidah turunan dari kaidah niat, khususnya dalam bidang mu’amalah.

Pengertian Niat Secara Bahasa Dan Istilah
Ia berasal dari kata kerja Nawa – Yanwi. Asalnya adalah Nauyatun atas wazan Fa’latun yang berarti Kehendak terhadap sesuatu (Azam). Ia memiliki makna Umum dan makna khusus. Makna umumnya seperti yang telah dikatakan Baidhowy ” Hati menjadi hidup ketika ia melihat sesuatu yang cocok dengan tujuannya dari bagian kemanfaatan atau menolak kemudhorotan suatu keadaan atau harta. Syariat dikhususkan dengan irodah/ kehendak yang terarah, misalnya perbuatan yang mengharapkan ridho Alloh swt dan melaksanakan perintah-Nya” . Sedangkan niat dengan makna khusus adalah ” bertujuan untuk taat dan mendekatkan diri kepada Alloh swt dengan melakukan perbutan yang diperintah-Nya dan menjauhi perbuatn yang dilarang-Nya.
Sedangkan pengertian Niat secara istilah adalah menyengaja terhadap keseluruhan perbuatan yang meliputi kehendak, tujuan yang akan datang atas suatu pekerjaan atau membantu pekerjaan dalam beberapa saat (situai dan kondisi).

Niat Adalah Pondasi Perbuatan
Niat masuk dalam bab-bab penting dalam ilmu fikih, tetapi oleh Ibnu Nujaim, niat dijadikan pada perbuatan ukhrowyah sebagi kaidh pertama dari beberapa kaidah-kaedah fikih besar lainnya, yakni kaedah “la tsawaba illa bi niyyatin” (tidak ada pahala kecuali dengan niat). Dan jika terdapat hukum-hukum kebiasaan adat (gholibul Adaat) semuanya tergantung pada niatnya, sehingga niat sangat penting untuk diutamakan dalam segala perbuatan dan menjadikannya sebagai rukun pertama.

Pandangan Al-Qur’an Tentang Niat
Dalam al-qur’an banyak disinggung masalah niat dalam beberapa redaksi lafadz yang berbeda, walaupun niat tidak disebutkan secara langsung, tetapi substansinya adalah niat , tujuan dan keikhlasan.
Firman Alloh swt dalam al-quran surat al-Bayyinah ayat ke-5
“Dan mereka tidak diperintahkan keculai untuk beribadah kepada Alloh swt dengan memurnikn ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus”.
“Maka sembahlah Alloh swt dengan memurnikan ketaan dalam menjalankan agama yang lurus” QS. Al-Zumar :2 dll, mislnya dalam QS Al- Zumar : 11, Al-A’raf: 29, Lukman: 32, Ghofir: 14, 65.

Pandangan Sunnah Tentang Niat
Rolullah saw menjadikan niat sebagai salah satu syarat sahnya suatu perbuatan, perbuatan tiada nilainya jika tanpa disertai dengan niat, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Umar Bin Khattab, Nabi bersabda ” Inna maa al-a’maalu bin niyat…..”(perbuatan itu tergantung pada niatnya…….). serta hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, Nabi bersabda ” Inna maa yaba’tsu an-naasa ala niyyatihim” (manusia dinilai dengan niatnya” dan masih banyak hadits yang lain yang membicarakan tentang pentingnya niat.

Syarat Diterimanya Perbuatan
Ada dua syarat yang harus dipenuhi supaya amal perbuatan diterima oleh Alloh swt, yang pertama adalah dengan adanya niat yang ikhlas dan benar. Dan yang kedua adalah perbuatan atau pekerjaan tersebut harus nampak jelas, yakni sesuai dengan yang disyariatkan oleh-Nya, bukan bid’ah. Ibnu mas’ud berkata ” Perkataan tidak akan berguna tanpa adanya perbuatan, perkataan dan perbuatan tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya niat, dan perkataan perbuatan serta niat tidak akan bermanfaat jika bertentangan dengan Sunnah Rosulullah yang Shohihah.

Keadaan (Mahall) Niat
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyyah, beliau menukilkan pada para ulama Syariat yang mengatakan bahwa niat tempatnya berada di dalam hati, tidak cukup hanya diucapkan di lisan. Sedangkan waktu niat itu sendiri adalah diawal ibadah.

Tujuan Dari Niat Dalam Ibadah
Tujuan dari niat ibadah ada dua perkara, yang pertama adalah membedakan antara ibadah dengan perbuatan Adat, misalnya duduk dimasjid untuk istirahat atau I’tikaf, hal ini dapat dibedakan dengan niatnya.
Yang kedua adalah membedakan antara ibadah yang satu dengan ibadah yang lainnya, misalnya dengan adanya perbedaan ibadah yang wajib, sunnah dll yang disyariatkan dalam agama.

Kaedah-Kaedah Dalam Niat
Kaedah-kaedah yang berkaitan dengan niat sangat banyak diantaranya adalah
1-Orang yang berniat melakukan perbuatan untuk tujuan ibadah makhdhoh dan jelas tidak bercampur dengan perbuatan Adat, walaupun terkadang perbuatan ibadah tersebut mirip dengan perbuatan Adat.
Perbuatan ini dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama; sholat, haji, puasa dan seluruh ibadah yang tidak sama dengan Adat. Ibadah –ibadah tersebut tidak wajib di sandarkan kembali niat kepada-Nya, karena jenis ibadah ini jelas Kepada Alloh swt. Tetapi yang kedua; jika ibadah tersebut sama atau mirip dengan perbatan Adat, misalnya memberi harta, bisa jadi memberi untuk sadaqoh atau bisa jadi memberi untuk hadiyah, atau zakat wajib atau hanya sodakoh sunnah, maka ibadah jenis ini wajib untuk diniatkan kepada Alloh swt sesuai dengan ibadah yang dikehendaki.
2-Pendekatan atau Ibadah yang sudah pasti untuk mendekatkan diri pada Alloh swt, tidak perlu untuk diniatkan kembali, misalnya Baca Al-Qur’an, Tahlil dan Tasbih serta dzikir-dzikir yang lainnya. Karena ibadah jenis ini jelas berbeda dengan ibadah-ibadah yang lainnya, yakni dzikir hanya kepada Alloh swt saja. Tetapi ia butuh tujuan yang lebih spesifik, misalnya dengan dzikir tersebut seorang hamba berniat ikhlas kepada Alloh swt, atauy karena cinta kepada-Nya, atau kerena ada Harapan kepadanya atau ingin mendapatkan pahala serta ingin meminta ampunan kepada-Nya. Dengan demikian ia butuh niat yang lebih khusus dan tertentu.
3-Kesalahan yang tidak memiliki syarat ketentuan, maka tidak ada pengaruh terhadapnya (asal ibadah).
Makna kaedah ini ditentukn oleh 3 ketentun pembagian. Pertama; adanya ketentuna yang pasti (ta’yin lazim) sehingga jika ia tiada, maka tidaklah sah ibadah tersebut. Misalnya berniat sholat dhuhur, maka ia harus niat sholat dhuhur. Jika ibadah tersebut adalah wajib, maka ia harus berniat melakukan ibadah wajib dsb. Jika niat-niat yang pasti tersebut tidak dilakukan maka ibadah yang telah dilakukan tidak sah.
Yang kedua; adanya ketentuan yang wajib dari ketentuan itu sendiri (ta’yin ma la yalzimu ta’yinuhu). Misalnya niat sholat dhuhur wajib atau bilangan sholat rakaat sholat dsb. Mukallaf harus memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut, sehingga bila ditemui niat sholat Dhuhur sunnah atau dengan bilangan rakaat dhuhur hanya tiga rakaat, maka jelas ibadah shalatnya tidak sah. Kesalahan-kesalahan seperti di atas tidak mempengaruhi Asal dari ibadah tersebut.
4-Barang siapa yang mendahulukan sesuatu yang masih belum waktunya, maka dihukumi sesuai dengan yang diharamkan.
Cabang dari kaedah ini adalah pemecahan masalah haram dan halal. Barang siapa yang melakukan yang haram tersebut, maka ia mendapatkan hukuman (sanksi), misalnya kaum yahudi yang dihukumi haram untuk memakan binatang buruan pada hari sabtu, ternyata mereka menjaring dengan perangkap pada hari minggu. Perbuatan ini jelas untuk memperbolehkan diri mereka untuk menangkap hewan buruan dan menghindari dari hukum yang telah ditetapkan oleh Alloh swt. Rosulullah saw bersabda ” Alloh swt telah melaknat kaum yahudi ketika mereka diharamkan untuk mengambil lemak (minyak) bangkai, tetapi mereka tetap mengambil dan mengumpulkannya dan mengambil otaknya kemudian mereka menjualnya serta memakan hasil dari harga penjualannya”.
Dengan demikian kaum yahudi yang melakukan tindak penangkapan binatang buruan pada hari yang bukan diharamkanpun tetap dilaknat oleh Alloh swt karena perbuatannya sama dengan yang telah diharamkan.
5-tidak ada pahala dan hukuman tanpa adanya niat
Pahala dan sanksi di dunia dan di akhirat tergantung pada niatnya yang secara global dan terperinci. Pahala yang diberikan Alloh pada seorang mukmin disebabkan oleh keihklasannya. Sebagaimana firman-Nya
“masuklah kalian ke surga disebabkan oleh perbuatanmu” “Maka barang siapa yang be4rtaubat dan beriman serta beramal saleh, maka boleh jadi ia termasuk dalam golongan orang-oranmg yang beruntung”
Adapun pahala dan sanksi duniawi tidak lepas dari dua perkara, yakni; Pertama; seorang Mukallaf atau tidak Mukallaf. Jika seorang Mukallaf maka ia wajib menegakkan kewajiban untuk taat kepada Alloh swt dalam kehidupannya secara baik, baik laki-laki maupun perempuan. Seperti firman-Nya “Barang siapa yang bermal saleh dari golongan laki-laki dn perempuan dan dia adalah seorang mukmin, maka sesungguhnya kami akan memberikannya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya kami akan memberikan balasan yang baik kepada mereka dari apa-apa yang telah mereka kerjakan”
Sedangkan jika ia bukanlah seorang mukallaf, misalnya anak yang masih kecil, maka ketika ia berbuat maksiat, maka tidak ditulis mendapatkan dosa, tetapi hendaknya diarahkan agar tidak melakukan kemaksiatan. Sebagaimana sabda Rosulullah saw ” Perintahkan sholat pada anak-anakmu yang telah berumur tujuh tahun dan pukullah ia jika membantah sedangkan ia telah berumur sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidurnya (antara laki-laki dn perempuan).
Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang telah melakukan kebaikan, maka ia tetap mendapatkan pahala yang diberika kepada orang tuanya, sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam peristiwa hajinya seorang ibu-ibu yang membawa anaknya. Mereka bertanya kepada Rosulullah saw “apakah ia sudah haji?. Jawab rosul “ya, dan kamu mendapatkan satu pahala”
6-baiknya perbuatan tergantung pada baiknya niat, begitu juga sebaliknya.dll.
Perbuatan jelek itu tergantung pada niatnya, jika niatnya jelek dan tidak ikhlas karena Alloh swt, maka amal perbuatan tersebut rusak (fasid) dan masuk dalam kategori batilul amal di dunia. Perbuatn ini tidak akan mendapatkan pahala disisi Alloh swt (di Akhirat), sebagaimana firman-Nya “Dan amal-amal orang kafir adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, maka bila didatanginya air itu ia tidak mendapatinya sedikitpun. Dan didapatinya ketetapan Allo swt disisinya, lalu Alloh memberikan kepada perhitungan amal-amal dengan cukup dan Alloh adalah sangat cepat hisabnya (perhitungannya)”.
Rusaknya amal perbuatan karena niatnya yang salah (rusak), misalnya perbuatn syirik. Syirik merupakan perbuatn dosa yang paling besar dan tak dapat diampuni oleh Alloh swt. Misalnya perkataan Fira’un yang mengatakan “wa maa Robbul A’lamin” (Alloh swt bukan Tuhan seluruh alam). Jenis syirik ini sangat parah, dll.
“Alloh-lah yang telah menciptakan langit dn bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian ia duduk di atas arsy-Nya, maka tidak patutlah bagimu untuk mengambil penolong dan pembela selain-Nya, apakah kamu tidak berfikir?”

2. Pengertian Niat
Dalam Lisân al-’Arab dan Mu’jam al-Wasîth, niat adalah bentuk masdar dari kata kerja ”nawâ-yanwî” berati kehendak hati untuk mengerjakan suatu perkara.
نَوَى – يَنْوِيْ نِيَّةً وَ هُوَ عَزْمُ القَلْبِ عَلَى أَمْرٍ مِنَ الأَُمُوْرِ
Dalam Kamus Al Munawwir, berarti maksud hati; hajat; berniat sungguh-sungguh; menjaga; melindungi; berpindah tempat alias hijrah; pergi jauh; menyampaikan; melemparkan. Sedang Dalam Ensiklopedi Al Qur’an diuraikan kata ”an-nawa” pada ayat 95 Q.S. al-An’âm, menurut Ibnu Faris, seorang ahli bahasa kenamaan, menjelaskan bahwa an nawa mempunyai dua arti; at-tahawwul min dârin ilâ dârin, dan at-tamar. Dalam istilah sehari-hari an nawa banyak digunakan untuk pengertian maksud atau tujuan. Hasil perubahan arti kata ini menjadi maksud dan tujuan lebih dekat kepada arti pertama karena bepergian ke suatu negeri tertentu tidak terlepas dari tujuannya.
Arti niat secara umum sebagaimana dikemukakan al-Baidhâwî adalah dorongan hati yang dilihat sesuai dengan suatu tujuan, berupa mendatangkan manfaat atau mendatangkan mudharat dari sisi kondisi atau tempat, dan syari’at mengkhususkannya dengan kehendak yang diarahkan pada perbuatan tertentu semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT dan mematuhi hukumnya. Sedang secara khusus adalah menuju ketaatan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan melakukan suatu perbuatan atau tidak melakukannya.

3. Niat Sebagai Landasan Perbuatan
Para ulama telah bersepakat bahwa segala amal yang dilakukan seorang mukallaf mukmin tidak dianggap sah secara syar’i dan tidak berpahala jika ia mengerjakannya kecuali dengan disertai niat. Bahkan, Ibnu Nujaim menjadikan niat dalam amalan-amalan ukhrawiyyah sebagai kaidah utama dari kaidah-kaidah pokok fiqh, yaitu ”tidak ada pahala kecuali dengan disertai niat”. Karena semua hukum dan ibadah didasarkan pada niat, maka niat wajib didahulukan atas setiap amal perbuatan, dan dijadikan sebagai rukun pertama.
Pegangan ulama yang menjadikan niat sebagai rukun perbuatan adalah analisa mereka bahwa huruf jarr (preposition) ”ب” dalam sabda Nabi SAW : إنما الأعمال بالنيات mengandung makna lil mushâhabah atau ma’iyyah (menyertai). Tetapi ada yang berpendapat bahwa niat sebagai syarat ibadah dan perbuatan, karena huruf jarr ”ب” adalah bâ sababiyyah (dengan sebab adanya). Karena itu niat tidak harus menyertai dari permulaan sampai akhir perbuatan, tetapi cukup sekiranya sudah ada niat, terutama di awal perbuatan itu dilakukan.

4. Niat Yang Ikhlas Dasar Diterimanya Amal
Keberadaan niat harus disertai dengan menghilangkan segala keburukan, nafsu, dan keduniaan. Niat itu harus ikhlas karena Allah dalam setiap amal, agar amal itu diterima di sisi Allah. Ibnu Rajab mengemukakan bahwa setiap amal shalih mempunyai dua syarat, yang tidak akan diterima kecuali dengan keduanya; pertama, niat yang ikhlas dan benar. Kedua, sesuai dengan sunnah, mengikuti contoh Nabi SAW.
Dengan syarat pertama, kebenaran batin akan terwujud, sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi SAW. “Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung pada niatnya.” Inilah yang menjadi timbangan batin. Dan dengan syarat kedua, kebenaran lahir akan terwujud, sebagaimana disebutkan dalam sabda beliau :
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntutan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.
Allah telah menyebutkan dua syarat ini dalam beberapa ayat, di antaranya:
وَمَنْ أَحْسَنُ دِيناً مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لله وَهُوَ مُحْسِنٌ واتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً وَاتَّخَذَ اللّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً
Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan diapun mengerjakan kebaikan dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus.

Menyerahkan dirinya kepada Allah artinya, mengikhlaskan amal kepada Allah, mengamalkan dengan iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah. Sedangkan berbuat baik berarti dalam beramal mengikuti apa yang disyariatkan Allah, dan apa yang dibawa oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang haq.
Dua syarat ini, bila salah satunya tidak terpenuhi, maka amal ini tidak sah. Jadi harus ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah, dan benar mengikuti petunjuk Nabi SAW. Lahirnya ittiba’, dan batinnya ikhlas. Bila salah satu syarat ini hilang, maka amal itu akan rusak. Bila hilang keikhlasan, maka orang itu akan jadi munafik dan riya’ kepada manusia. Sedangkan bila hilang ittiba’, artinya tidak mengikuti contoh Nabi SAW maka orang itu sesat dan bodoh (jahil).
Dari uraian di atas, jelaslah betapa pentingnya peran niat dalam amal. Niat itu harus ikhlas, tetapi ikhlas semata tidak cukup menjamin diterimanya amal, selagi tidak sesuai dengan ketetapan syariat dan dibenarkan Sunnah. Sebagaimana tidak akan diterimanya amal yang dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat, selagi tidak disertai dengan ikhlas; sama sekali tidak ada bobotnya dalam timbangan amal.

5. Waktu Niat dan Tempatnya
Menukil kesepakatan ulama, Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa waktu niat itu di awal melakukan ibadah atau perbuatan. Niat tempatnya di hati, bukan diucapkan dengan lisan. Bila yang diucapkan lisan seseorang berbeda dengan apa yang ia niatkan dalam hati, maka yang diperhitungkan ialah yang diniatkan, bukan yang dilafadzkan. Walaupun ia mengucapkan dengan lisannya bersama niat, sedangkan niat belum sampai ke dalam hatinya, maka hal itu tidak cukup. Demikian menurut kesepakatan para imam kaum Muslimin, karena sesungguhnya niat itu adalah jenis tujuan dan kehendak yang pasti. Orang Arab biasa mengatakan:
نَوَاكَ اللهُ بِخَيْرٍ
(Allah menunjukkan kepada kamu kebaikan)
Talafudz (melafadzkan) niat tidak pernah dicontohkan oleh Nabi SAW, juga tidak pernah diriwayatkan oleh seorangpun, baik melalui periwayatan yang shahih, dhaif, maupun mursal. Tidak seorangpun sahabat yang meriwayatkan, dan tidak ada seorang tabi’in pun yang menganggap baik masalah ini, dan tidak pula dilakukan oleh empat Imam Madzhab yang mashur.

6. Kaidah-kaidah Niat
عَنْ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ يَقُوْلُ : إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّياَتِ وَ إِنَّماَ لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niat, dan sesungguhnya seseorang itu hanya akan mendapatkan balasan sebagaimana niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka (pahala) hijrahnya (dinilai) kepada Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa yang hijrahnya diniatkan untuk kepentingan harta dunia yang hendak dicapainya, atau karena seorang wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya akan dibalas sebagaimana yang ia niatkan.”
Tidak diragukan lagi, niat itu merupakan neraca bagi sahnya suatu perbuatan. Niat merupakan kehendak yang pasti, sekalipun tidak disertai dengan amal. Maka dari itu, kadang-kadang kehendak ini merupakan niat yang baik lagi terpuji, dan kadang merupakan niat yang buruk lagi tercela. Hal ini tergantung dari apa yang diniatkan, dan juga tergantung kepada pendorong dan pemicunya; apakah untuk dunia ataukah untuk akhirat? Apakah untuk mencari keridhaan Allah, ataukah untuk mencari keridhaan manusia? Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
…ثُمَّ يُبْعَثُوْنَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ…
(…kemudian mereka dibangkitkan menurut niat mereka…)
Karena peranan niat dalam mengarahkan amal menentukan bentuk dan bobotnya, maka para ulama menyimpulkan banyak kaidah fiqh yang diambil dari hadits ini, yang merupakan kaidah yang luas. Kaidah umum dari hadist di atas adalah yang berbunyi :
الأمـور بمقـاصدها
(Segala perkara tergantung dari tujuan niatnya)
2. Uraian Kata-kata
a) Kata “al-umuru” menurut bahasa dan istilah
“al-umuru” jama’ dari kata “amru” yaitu suatu perkara yang memerlukan pada perkataan dan perbuatan dari sisi segi penguasaannya. Sebagaimana perkara yang datang dalam situasi, keadaan,urusan dan perbuatan. Firman Allah swt: “padahal perintah fir’aun bukanlah (perintah) yang benar” Q.S.Hud:97. Artinya keadaan. Firman Allah swt: “itu bukan menjadi urusanmu” Q.S Al-Imran:128. Artinya urusan dan keadaan. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam kitab “Darsu Hukam Syarah Majalatul Ahkam al-Adiliyah” si fulan mengerjakan segala perbuatan slalu di iringi dengan niat yang lurus, artinya keadaan. Adapun maksud dengan perkara disini adalah perbuatan seluruh anggota badan diantaranya perkataan dan perbuatan.
b) pengertian “al-maqoshid” menurut bahasa dan istilah.
“al-maqoshid” jama’ dari kata maqshadu dengan fathah shad, dari asal kata “al-qoshdu” yaitu hadirnya sesuatu. Seperti kata: niat, orang yang memilki niat, apa yang menjadi niat. Adanya niat dalam suatu perkara akan mendorong seseorang untuk mengerjakannya tanpa adanya batasan. Kata : al-qoshdu, Niat, Iradah, I’timad, Ammu, Itiqomah, Wijhah, mempunyai makna yang sama. Yaitu keinginan (niat) untuk mencapai tujuan. Kata “Al-Qoshdu” lebih kuat dari kata “Irodah” karena lafadhnya mengisyaratkan pada kebulatan niat dan keinginan yang benar.

3. Konsepsi kaidah dan Pengertiannya.
Bahwa kaidah “Al-Umuru bi Maqoshidihaa” dengan redaksi yang singkat namun mengandung makna komprehensif. Kaidah ini mengandung makna yang umum, luas, dan mencakup seluruh perkara manusia baik berupa perkataan maupun perbuatan. Jika lafadh “al-umuru” bermakna umum karena kemasukan alif lam jinsiyah demikian pula dengan lafadh “al-maqoshid” di idafahkan dhamirnya kepada lafadh umum. Maka makna dari kaidah ini adalah segala perbuatan dan tingkah laku mukallaf yang datang dari perkataan maupun perbuatan memiliki hasil hukum yang berbedasesuai dengan berbedanya maksud tujuan seseorang, dan hukum syariah itu disesuaikan dengan perbuatan dan tingkah laku, jika suatu hukum berlaku terhadap suatu perkara maka perlu melihat kepada niat untuk memberlakukan hukum tersebut. Menghadirkan niat dalam segala tingkah laku perbuatan yang berkaitan dengan urusan dunia dan akhirat. Adapun segala perbuatan itu meliputi perkatan, perbuatan, gerakan, diam, mencari nafkah, berfikir, berzikir, adat istiadat serta ibadah. Maka niat menjadi penentu berlakunya hukum. Barangsiapa mengerjakan suatu perbuatan tanpa disertai niat disebabkan lupa dan sebagainya maka perbuatan itu tidak dapat diberlakukan hukum yang sama karena tidak sama antara niat dan perbuatan tersebut. Contohnya, bahwa setiap orang yang membunuh tidak dibenarkan dalam syariat, jika ia membunuh dengan sengaja maka berlakulah hukum, jika ia membunuh tanpa sengaja maka akan berlaku hukum yang lain baginya.

4. Landasan Hukum (Dalil).
Diantara dalil yang dipakai dalam kaidah ini:
sabda nabi saw “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung dengan niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh dari apa yang ia niatkan…”
hadits ini menjadi asal kaidah ini.

Hadits yang datang dari bukhari dan muslim dari sa’ad bin abi waqash R.A “sesungguhya manusia itu dibangkitkan sesuai dengan niatnya”.
Hadits-hadits lain banyak yang berkaitan dengan kaidah ini menjelaskan bahwa segala perbuatan itu di ukur dari niatnya, karna niat mempengaruhi perbuatan.
Setiap amal perbuatan, baik dalam hubungannya dengan Allah maupun dengan sesama makhluk, nilainya ditentukan oleh niat serta tujuan dilakukannya. Dalam perbuatan ibadah misalnya, niat karena dan untuk Allah adalah merupakan inti yang menentukan sah atau tidaknya suatu ibadah, di samping merupakan pembeda tingkatan suatu ibadah, apakah ibadah fardu, sunat, atau mubah, juga dapat merupakan pembeda antara satu ibadah dengan ibadah yang lain dan anatara ibadah dan bukan ibadah atau amal kebiasaan.
Sedangkan dalam perbuatan yang hubungannya dengan makhluk, seperti mu’amalah, munakahat, jinayah dan sebagainya, niat adalah merupakan penentu; apakah perbuatan tersebut mempunyai nilai ibadah atau sebaliknya tidak bermuatan ibadah. Dalam amal kemasyarakatan dapat diketahui dengan tanda-tanda, petunjuk-petunjuk (qarînah) yang ada, apakah perbuatan tersebut karena Allah atau karena manusia.
Niat di samping sebagai alat penilai perbuatan, juga dapat merupakan ibadah tersendiri seperti dapat dipahami dari hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrânî dari Sahl ibn Sa’d :
نية المؤمن خير من عمله
(Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada amalnya (yang tanpa niat)
Dari kaidah umum di atas, para ulama menderivasinya menjadi banyak kaidah-kaidah turunannya, yaitu sebagai berikut :
8. إن المنوي من العمل إما أن يكون عبادة محضة لا يلتبس بالعادات، وإما أن يكون جنسه مما يشبه العادات
(Niat perbuatan sebagai ibadah mahdhah dan jenis ibadah yang menyerupai adat kebiasaan, tidak boleh dicampuradukkan dengan adat kebiasaan)
Terkait dengan statemen kaidah di atas, maka niat disyariatkan untuk beberapa hal berikut :
Pertama, untuk membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Misalnya seseorang yang memerdekakan seorang hamba, apakah ia niatkan untuk membayar kafarah (tebusan), ataukah ia niatkan untuk nadzar, atau yang lainnya? Atau seseorang mengerjakan shalat 4 rakaat; apakah diniatkan shalat dhuhur, shalat sunnat atau shalat Ashar? yang membedakannya adalah niatnya. Jadi yang penting, untuk membedakan dua ibadah yang sama adalah niat.
Kedua, untuk membedakan antara ibadah dengan kebiasaan (adat). Misalnya duduk di masjid; apakah duduk istirahat, apakah untuk i’tikaf, Menafkahkan harta dapat dikategorikan sebagai nafkah wajib, hadiah atau tali asih, dan bisa juga sebagai zakat wajib atau sedekah sunat. Begitu juga dengan penyembelihan hewan yang dapat dikategorikan sebagai kurban, sembelihan, pesta, atau jamuan untuk para tamu, kesemuanya sangat bergantung pada niatnya. Yang membedakan antara ibadah dan kebiasaan adalah niat.
9. القربات التي لا بأس فيها لا تحتاج إلى نية الإضافة إلى الله تعالى
(Perbuatan-perbuatan (mubah) untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak membutuhkan adanya niat tambahan karena Allah)
Perkara mubah ialah segala hal yang tidak diganjar pelakunya dan tidak mendapat siksa bagi yang meninggalkannya, maka hukum melakukannya atau meninggalkannya adalah sama. Tetapi, karena besarnya pengaruh niat, maka perbuatan yang mubah dan menjadi kebiasaan sehari-hari, dapat bernilai ibadah dan amalan qurbah (amal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah) dan pelakunya mendapatkan pahala.
Dalam perbuatan yang mubah, niat yang dibutuhkan adalah niat kehendak atau maksud dari perbuatan mubah tersebut, yakni mengharap ridha Allah, bukan selain-Nya dengan dilandasi keikhlasan, kecintaan kapdada-Nya, dan pengharapan akan pahala dan khawatir terhadap dosa, tanpa perlu merinci atau menunjuk secara khusus perbuatan-perbuatan mubah apa saja yang hendak dikerjakannya.
Pekerjaan mencari rezeki, bercocok tanam, berkarya, berdagang, mengajar dan profesi lainnya, dapat menjadi ibadah dan jihad fi sabilillah selagi pekerjaan itu dimaksudkan untuk menjaga dirinya dari hal-hal yang diharamkan dan mencari yang halal, serta tidak bertentangan dengan perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya.
Begitu pula makan minum, berpakaian, jika dikerjakan dengan niat untuk ketaatan kepada Allah dan melaksanakan kewajiban kepada Rabb, maka akan diganjar berdasarkan niatnya. Orang yang mencari nafkah untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta kepada orang lain, untuk membiayai dirinya dan keluarganya, akan diganjar atas niatnya.
Imam Suyuthi menjelaskan, dalil yang tepat yang dijadikan dasar (oleh para ulama), bahwa seorang hamba akan mendapat ganjaran dengan niat yang baik dalam perbuatan yang mubah dan kebiasaan ialah sabda Nabi SAW; ”dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan”. Dengan perkataan lain, niat ini akan diganjar apabila dimasudkan untuk taqarrub kepada Allah, sehingga bila tidak dengan tujuan itu, tidak akan diberi pahala.
10. الألفاط إذا كان نصوصا في شيء غير متردد لم تجتج إلى نية تعيين المدلول لانصرافها بصراحتها لمدلولها
(Lafadz apabila berbentuk perkataan yang terang dan jelas kepada suatu perkara yang tidak diragukan (pasti), tidak membutuhkan adanya niat terperinci, karena kejelasan lafadz tersebut semata tertuju pada sesuatu yang maksud)
Seperti lafadz yang jelas dan terang dalam akad-akad di bidang muamalah; lafadz jual beli, ijârah, muzâra’ah, mughârasah, salam, ju’âlah, hibah dan sebagainya, dengan sendirinya menunjuk kepada akad-akad yang ditunjuk, sehingga dalam konteks ini hanya diperlukan niat kehendak atau maksud pelaksanaannya dan tidak membutuhkan niat perinciannya.
11. المقاصد من منافع الأعيان، المعقود عليها إذا كانت متعينة استغنت عن التعيين
(Maksud dari pemanfaatan barang yang menjadi obyek akad apabila telah jelas, tidak membutuhkan perinciannya)
Pada barang yang menjadi obyek akad ijârah atau i’ârah misalnya, tidak dibutuhkan pembatasan pemanfaatannya dalam akad apabila manfaat tersebut secara umum telah diketahui, sesuai dengan ’urf dan adat yang berlaku. Orang yang menyewa cangkul, kapak, pakaian atau serban tidak disyaratkan untuk merinci pemanfaatan barang-barang tersebut, karena jenis dan sifat barang-barang itu dengan sendirinya menunjukkan maksud dan kegunaannya. Tetapi, bila obyek akad mempunyai beberapa kegunaan atau manfaat, seperti binatang untuk angkutan dan tunggangan, tanah untuk didirikan gedung, persawahan, atau perkebunan, maka disyaratkan perincian pemanfaatannya untuk menghindari timbulnya konflik dan sengketa di kemudian hari.
12. النقود إذا كان نوعها غالبا لم تحتج إلى بيانها في العقد
(Mata uang apabila jenisnya umum digunakan, tidak dibutuhkan penjelasannya dalam akad)
Maksud dari kaidah ini adalah apabila dalam suatu negara terdapat beberapa jenis mata uang, sebagian dikenal secara luas dan sebagian lainnya hanya diketahui oleh orang-orang atau kalangan tertentu saja, apabila dilakukan suatu akad (seperti akad jual beli, ijarah atau nikah) dan nilai akad ditentukan dengan mata uang tersebut, maka hanya ada dua kemungkinan mata uang yang dimaksud; apakah mata uang yang telah dikenal secara luas oleh mayoritas penduduk negeri, ataukah mata uang yang dikenal oleh minoritas dan kalangan tertentu. Apabila yang dimaksud dalam akad adalah mata uang jenis pertama yang dikenal secara luas, cukup menyebutkan kuantitas dan namanya saja, tetapi bila yang dimaksud adalah jenis mata uang kedua, maka disyaratkan menyebut kuantitas, nama dan jenis mata uang tersebut.
13. الحقوق إذا تعينت لمستحقها كالحق المنفرد فإنه يتعين لربه بغير نية
(Hak apabila pasti mustahikknya seperti hak perorangan, maka ia adalah hak si (E)mpunya, tanpa perlu adanya niat)
Maksud dari kaidah ini adalah apabila hak Allah telah pasti atas seorang hamba, maka dalam pelaksanaannya tidak disyaratkan adanya perincian niatnya. Misalnya, seseorang yang melaksanakan suatu nazar, zakat, atau kaffârah cukup baginya meniatkan maksud dan kehendak pelaksanaannya, tanpa niat tambahan atau rinciannya. Tetapi bila hak-hak tersebut bermacam-macam jenis dan sifatnya, seperti jenis-jenis nazar, zakat atau kaffârât, maka saat pelaksanaannya perlu ditentukan maksud dan detail niatnya.
Apabila yang dimaksud adalah hak hamba (adamiy) yang satu jenis, tidak beragam baik bentuk maupun jenisnya, maka ia cukup meniatkan kehendak atau maksud pelaksanaannya dan niat melepaskan beban tanggung jawab darinya. Tetapi, bila beragam, seperti seseorang yang menanggung dua jenis hutang dalam waktu yang bersamaan, satunya dengan jaminan sedang hutang yang lainnya tanpa jaminan, atau hak qard, salam, maskawin, hibah atau pemberian cinderamata, maka disyaratkan niat kehendak/maksud dan niat rincian pelaksanaannya agar tidak samar dan untuk membedakan jenis yang satu dari yang lainnya.
14. التصرفات إذا كانت دائرة بين جهات شتى لا تنصرف لأحدهما إلا بنية
(Pertukaran apabila terjadi antara beberapa pihak, tidak sah pelaksanaannya kecuali disertai niat)
Dalam pertukaran yang dilakukan antara dua belah pihak yang terbatas diperlukan niat kehendak/maksud dari pertukaran itu, tetapi bila yang melakukannya antara banyak pihak, maka dibutuhkan niat kehendak/maksud dan niat perincian dari pertukaran itu.
Contoh pertama adalah orang yang memberi wasiat atas sesuatu untuk ditukarkan dengan harta benda tertentu dengan cara jual beli, atau pemindahan, atau cara-cara sejenis lainnya yang terkait dengan harta benda yang diwasiatkan, maka pertukaran ini tidak mensyaratkan adanya niat terperinci, tetapi hanya disyaratkan niat kehendak/maksud.
Contoh kedua adalah seseorang yang memberi wasiat atau wakil yang melakukan pertukaran lebih dari satu jenis, seperti wasiat atas harta anak yatim atau wakaf kepada si Fulan, tetapi dalam pelaksanaannya diwakilkan oleh orang yang memberi wasiat kepada wakil, maka sesungguhnya wasiat itu berasal dari orang yang memberi wasiat atau yang mewakilkan, dan bukan dari orang yang mewakili, kecuali adanya niat yang terperinci dari pemberi wasiat bahwa wasiat yang diwakilkan itu untuk diri orang yang mewakilkan.
15. لا بد في النية أن تكون مستندة إلى علم جازم أو ظن راجح
(Niat harus disandarkan pada pengetahuan yang pasti atau sangkaan yang kuat)
Niat berbuat sesuatu merupakan kehendak yang dapat direalisasikan atas dasar pengetahuan yang pasti, yang bersih dari tendensi keraguan dan persangkaan (wahm), dan dapat pula didasarkan pada persangkaan yang kuat (dzann râjih) bahwa yang dilakukannya itu sesuai dengan yang dikehendaki. Sebagaimana maklum, bahwa dzann adalah persangkaan yang kuat atau pendapat yang lebih cenderung kepada tepat atau benarnya daripada kepada tidak tepat atau tidak benarnya. Kaidah ini berlaku untuk semua jenis perbuatan dalam kategori ibadah dan mu’amalah.
Sebagai contoh, seseorang yang mengeluarkan zakat kepada orang yang disangkanya sebagai mustahik zakat, dan kemudian diketahui bahwa orang tersebut memang benar-benar sebagai mustahiknya, maka zakat yang dikeluarkan muzakki tersebut adalah sah. Sebaliknya, jika kemudian diketahui bahwa orang yang menerima zakat itu bukan mustahiknya, maka tidak sah zakatnya. Atau seseorang yang menyangka bahwa dirinya mempunyai hutang kepada orang lain, oleh sebab itu ia melunasi hutang tersebut. Namun kenyataannya hutang tersebut telah dibayar sebelumnya dengan ditemukannya bukti pelunasan yang sebelumnya hilang atau tercecer, maka ia berhak mengambil kembali uangnya. Atau seorang bekas suami yang memberi nafkah kepada bekas isterinya yang telah ditalak bain, karena persangkaan bekas suami bahwa bekas isterinya itu sedang hamil, akan tetapi kenyataannya tidak hamil maka bekas suami berhak menarik kembali uang nafkah tersebut.
16. الخطأ فيما لا يشترط التعيين له لا يؤثر
(Kesalahan dalam pelaksanaan perbuatan yang tidak disyaratkan untuk dirinci niatnya (kemudian dirinci dan ternyata salah), maka kesalahan tersebut tidak berpengaruh atau tidak membatalkan perbuatan itu)
Dalam konteks mu’amalah, merinci niat yang tidak ada kaitannya dengan substansi akad, kemudian dalam pelaksanaannya ternyata salah, maka tidak akan membatalkan akad tersebut.
17. من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه
(Barangsiapa mempercepat sesuatu sebelum waktunya, maka ia menanggung akibat (diharamkan) untuk mendapatkannya)
Kaidah di atas lebih bersifat sebagai peringatan agar orang tidak tergesa-gesa melakukan perbuatan/tindakan dalam rangka untuk mendapatkan haknya sebelum waktunya. Kaidah di atas merupakan pengecualian dari kaidah الأمور بمقاصدها, karena pelaku di sini melakukan sesuatu yang bertentangan dengan tujuannya. Adapun hikmah yang dapat dipetik di balik itu adalah: saddu thuruq al-fasad, shiyânatul huqûq, man’u at-ta’addî ‘alaihâ. Di antara contohnya adalah :
Dalam masalah waris, karena ahli waris tergesa-gesa untuk mendapatkan harta waris sehingga ia membunuh ’amdan orang yang mewariskan dengan harapan mempercepat pembagian harta warisan, maka akibatnya si pembunuh haram hukumnya untuk mendapatkan bagian warisannya;
Pembunuhan terhadap seorang yang berwasiat (al-mûshî) oleh orang yang menerima wasiat (al-mushâ lahû) agar segera mendapatkan harta wasiat, maka pelaku pembunuhan tersebut diharamkan untuk mendapatkan warisan tersebut;
Pencurian atas harta rampasan sebelum dibagi-bagi oleh pelaku yang mulanya menperoleh bagian dari harta rampasan tersebut, maka hak si pelaku pencurian yang semula mendapatkan menjadi gugur (diharamkan);
Orang yang melakukan pernikahan dengan wanita yang masih dalam ‘iddahnya, maka -menurut pendapat sebagian fuqaha’- lelaki tersebut tidak boleh mengawininya untuk selama-lamanya.
Sebagian ulama menyempurnakan susunan kaidah di atas sehingga berbunyi :
من استعجل شيئا قبل أوانه ولم يكن لمصلحة فى ثبوته عوقب بحرمانه
(Barangsiapa yang berusaha menyegerakan sesuatu yang belum waktunya, dan tidak untuk kemaslahatan terhadap kekalnya sesuatu itu, akan menerima akibat tidak mendapatkan sesuatu itu)
18. يغتفر في الوسائل ما لا يغتفر في المقاصد
(Dimaafkan pada perbuatan atau sarana (wasail), tidak dimaafkan pada maksud atau tujuan perbuatan itu)
Maksud kaidah ini adalah bahwa sesuatu (niat) yang harus ada pada apa yang menjadi maksud haruslah dipenuhi, sedangkan pada cara untuk mencapai maksud itu (wasilah) dapat dimaafkan atau dilonggarkan dengan menghilangkan atau menguranginya. Dibolehkannya berbohong sebagai upaya rekonsiliasi (ishlâh) antara suami-isteri yang akan bercerai guna merealisasikan maslahah bagi keluarganya atau melanggengkan tali perkawinan, padahal hukum asal dari bohong adalah dilarang. Dibolehkan membakar harta kekayaan pihak musuh dalam situasi perang sebagai wasilah menakut-nakuti musuh dan menteror mereka. Juga dibolehkan menghukum terdakwa guna mendapatkan bukti atau kebenaran otentik, padahal hukum asalnya tidak dibolehkan, kecuali setelah terdakwa terbukti bersalah.
19. هل العبرة بصيغ العقود أو بمعانيها
(Apakah yang dimaksud dalam akad adalah sighat akad atau maknanya)
Dalam kaidah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan fuqaha manakala terjadi perbedaan antara sighat akad yang diucapkan dengan niat atau maksud si pembuatnya. Sebagian fuqaha berpendapat bahwa yang dipegang adalah sighat akadnya, sementara sebagian fuqaha lainnya berpandangan sebaliknya.
Sebagai contoh, seseorang yang berkata: ”Saya beli baju dari kamu dengan syarat-syarat demikian, dan uangnya sekian”, kemudian penjual mengatakan: ”oke, deal”, maka menurut lafadznya dianggap akad jual beli, tetapi menurut maknanya adalah akad salam.
Apabila seseorang memberi dengan syarat meminta imbalan; apakah itu termasuk akad jual beli berdasarkan makna ataukah hibah berdasarkan lafadz? Dalam hal ini maka yang lebih sah adalah jual beli.
Apabila seseorang berkata: ”Saya jual barang ini kepadamu”, dengan tidak menyebutkan harganya. Apabila dilihat dari maknanya maka berarti hibah, tetapi dari segi lafadz maka berarti akad jual beli, tetapi jual beli yang fasid.
Menurut Dr. Shâlih ibn Ghânim as-Sadlân, memang lebih afdzol menguatkan akad dengan sighat khusus, tetapi bila suatu masyarakat saling mengenal penggunaan sighat dan lafadz tertentu dan mereka kesulitan meninggalkannya, atau tidak tahu sighat khusus untuk masing-masing akad yang berbeda, sedangkan sighat yang dikenal oleh mereka telah menjadi ’urf yang berlaku dan jamak diketahui, maka fleksibilitas seperti itu sah adanya, apalagi tidak adanya suatu larangan yang jelas.
Bagi kalangan yang berpegang pada pendapat yang terakhir disebutkan di atas karena menganggap kaidah ini sebagai bagian (juz’iy) dari kaidah umum ”al-umûru bi maqâsidihâ”. Sehingga bagi kalangan ini berlaku kaidah :
العبرة في العقود للمقاصد والمعاني، لا للألفاظ والمباني
(Yang dipegang dalam akad adalah maksud dan makna akad, dan bukan sighat atau struktur kata akad)
20. مقاصد اللفظ على نية اللافظ إلا في موضع واحد وهو الحلف، فإنه على نية المستحلف
(Maksud dari lafadz menurut niat orang yang mengucapkannya, kecuali dalam satu hal yaitu sumpah. Dalam keadaan demikian maksud lafadz menurut niat orang yang menyumpah)
Sebagai contoh, seorang suami memanggil isterinya yang bernama Thâliq (artinya yang ditalak), atau seorang tuan memanggil budaknya yang bernama Hurrah (artinya yang dimerdekakan). Maka apabila memanggilnya itu bermaksud mentalak isterinya atau memerdekakan budaknya, maka tercapailah maksud suami dan tuan tersebut, yakni terjadi perceraian suami dengan isterinya dan terjadi pembebasan budak oleh tuannya. Atau seorang suami mentalak isterinya berturut-turut sampai tiga kali tanpa memakai kalimat penghubung antara talak yang satu denga lainnya, maka jika masing-masing kalimat itu diniatkan sebagai awal kalimat (isti’nâf) jatuhlah talak tiga sekaligus. Akan tetapi kalau maksudnya hanya sebagai penguat saja, maka hanya jatuh talak satu.
Yang dikecualikan dari kaidah di atas adalah sumpah (al-half, al-yamîn), maka maksud ucapan orang yang bersumpah adalah menurut maksud orang yang menyumpah (hakim atau qadhi jika sumpahnya di depan sidang pengadilan). Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abi Hurairah RA :
اليمين على نية المستحلف،
يمينك على ما يصدقك عليه صاحبك
21. صلاح العمل بصلاح النية وفساده بفسادها
(Sahnya perbuatan bergantung pada baiknya niat, dan rusaknya perbuatan bergantung pada rusaknya niat)
Kaidah ini adalah kaidah yang paling bermanfaat dan paling besar pengaruhnya, termasuk dalam seluruh bab bab ilmu. Baiknya amalan badaniyyah (amalan badan yang bukan termasuk ibadah) dan milaliyyah (amalan yang termasuk ibadah), yang berupa amalan hati ataupun amalan anggota badan hanyalah dengan niat (yang baik pula). Dan rusaknya amalan amalan tersebut adalah karena niat (yang rusak pula).

22. النية داخلة تحت الاختيار
(Niat masuk dalam kategori ikhtiyar)
Niat sangat berpengaruh terhadap perbuatan, baik dari aspek sah tidaknya, diterima atau ditolaknya. Sehingga timbul pertanyaan; Apakah seorang mukallaf mampu mengarahkan niat dan membatasinya? Ataukah niat merupakan perkara yang dipaksakan oleh asy-Syâri? Niat merupakan pekerjaan hati, dan pekerjaan hati mampu dilakukan oleh setiap mukallaf dan ia bebas memilih niat perbuatannya, tetapi yang diperintahkan syara’ adalah agar mengikhlaskan niat semua amal perbuatan hanya untuk Allah SWT saja, bukan yang selain-Nya. Kaidah ini untuk menentukan apakah suatu amal perbuatan itu diterima oleh Allah atau tidak.

23. ما لا تدخله النية من الأعمال: أعمال التروك
(Perbuatan yang tidak memerlukan niat adalah perbuatan meninggalkan)
Perkara yang dikehendaki untuk ditinggalkan yang dalam kacamata syara termasuk dalam kategori larangan (an-nawâhî), seperti meninggalkan riba dengan tidak mendepositokan uang di bank konvensional, meninggalkan najis pada pakaian dan badan, atau meninggalkan kebiasaan merokok tidaklah memerlukan syarat untuk berniat.

24. المتعين من العبادات والحقوق لا يحتاج إلى نية التعيين وأداء الحقوق لا يحتاج إلى نية.
(Jenis ibadah dan kewajiban yang telah jelas atau terperinci tidak membutuhkan niat perinciannya (cukup niat maksud dan tujuan), dan melaksanakan hak tidak membutuhkan adanya niat).
Maksud dari kaidah ini adalah bahwa kewajiban agama yang telah ditentukan syara yang dibebankan atas seorang mukallaf tidak disyaratkan niat merincinya, sebab dengan ia telah menunaikan kewajiban tersebut berarti telah bebas atau lepas tanggungannya. Demikian pula sebaliknya, bila ia meninggalkan sesuatu yang dilarang (yang wajib ditinggalkan), tanpa terlebih dahulu berniat meninggalkan larangan-larangan tersebut.
Berikut ini skema dan kategorisasi dari kaidah-kaidah di atas:

Kaidah-kaidah Klasifikasi Perbuatan Niat Kehendak, Tujuan/Qasdh,dan Niat Perincian/Ta’yîn)

الأمـور بمقـاصدها

النية داخلة تحت الاختيار

صلاح العمل بصلاح النية وفساده بفسادها

لا بد في النية أن تكون مستندة إلى علم جازم أو ظن راجح

إن المنوي من العمل إما أن يكون عبادة محضة لا يلتبس بالعادات، وإما أن يكون جنسه مما يشبه العادات

المتعين من العبادات والحقوق لا يحتاج إلى نية التعيين وأداء الحقوق لا يحتاج إلى نية

الحقوق إذا تعينت لمستحقها كالحق المنفرد فإنه يتعين لربه بغير نية

القربات التي لا بأس فيها لا تحتاج إلى نية الإضافة إلى الله تعالى

ما لا تدخله النية من الأعمال: أعمال التروك

هل العبرة بصيغ العقود أو بمعانيها

الألفاط إذا كان نصوصا في شيء غير متردد لم تجتج إلى نية تعيين المدلول لانصرافها بصراحتها لمدلولها

يغتفر في الوسائل ما لا يغتفر في المقاصد

مقاصد اللفظ على نية اللافظ إلا في موضع واحد وهو الحلف، فإنه على نية المستحلف

المقاصد من منافع الأعيان، المعقود عليها إذا كانت متعينة استغنت عن التعيين

Seluruh perbuatan baik (ibadah maupun muamalah)

Seluruh perbuatan

Seluruh perbuatan baik

Seluruh perbuatan

– Pembeda ibadah satu dengan ibadah yang lain (wajib, sunat)

– Pembeda antara ibadah dan kebiasaan

Jenis ibadah dan kewajiban yang telah pasti atau terperinci, seperti sholat dhuhur, ashar dst, atau membayar hutang kepada si Fulan

Pelaksanaan hak seseorang

Perbuatan mubah (seperti mencari rezeki, bercocok tanam, berkarya, berdagang, mengajar dan profes) dapat dinilai sebagai ibadah

Perbuatan meninggalkan yang dilarang syara (memakan harta anak yatim, riba, zina)

Apakah yang dimaksud dalam akah adalah sighat atau lafadz akad atau maksud dan makna dari akad tersebut

Lafadz yang jelas dalam jenis-jenis akad (seperti lafad jual beli, ijârah, muzâra’ah, mughârasah, salam, ju’âlah, hibah, wasiat dsb)

Maksud dan tujuan perbuatan

Sumpah

Pemanfaatan benda tertentu dan terperinci yang menjadi obyek akad

Niat kehendak, tujuan pelaku

Pelaku bebas menentukan niatnya (baik atau buruk)

Niat kehendak/maksud baik pelaku

Niat didasarkan pada pengetahuan yang pasti atau persangkaan yang kuat pelaku.

Niat kehendak, tujuan pelaku

Niat kehendak/maksud, dan tidak perlu niat perincian

Tidak disyaratkan niat (baik niat kehendak maupun niat perincian)

Niat kehendak, tujuan (qurbah ilâ allâh)

Tidak disyaratkan niat (baik niat kehendak maupun niat perincian)nya

Ada 2 pendapat : 1) yang dipegang adalah lafadz dan struktur kata dalam akad, dan 2) yang dipegang adalah maksud dan maknanya.

Niat kehendak saja, tidak disyaratkan niat perincian akad-akad terssebut.

Harus ada niat dalam perbuatan yang dimaksud/dituju, tetapi tidak disyaratkan berniat untuk perbuatan yang menjadi wasilah tercapainya maksud perbuatan

Tidak memerlukan niat perincian pemantaatannya

Pada umumnya, niat tergantung pada kehendak dan maksud orang yang mengucapkan. Pengecualian dalam sumpah; niat bergantung kepada kehendak dan maksud orang yang menyumpah (bukan orang yang bersumpah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *